Cerita Untuk Masa Depan
October 6th, 2008 by adeyzsevenKini semuanya sudah berubah. Mungkin untuk 11 bulan ke depan dan sebagian akan berubah selamanya. Otak dan tubuhku kukerahkan sekuat tenaga untuk menjadikan ini semua sesuai dengan ukuran badanku dan ukuran pikiranku.
Beberapa ratus ribu detik yang lalu, semua masih belum terasa berbeda. Aku masih merasa nyaman dengan semuanya. Pelukan dan senyuman yang hangat itu masih ada mewarnai hariku, beberapa ratus ribu detik sebelum aku meninggalkan itu semua. Wajah-wajah yang sabar menghadapi tingkahku perlahan tertutup awan bersamaan dengan pesawat yang membawaku semakin tinggi hingga aku tak bias melihat mereka lagi. Beberapa ratus ribu detik yang lalu belum ada hal yang terasa selain tetesan air mata saat aku merasakan pelukan hangat itu. Tapi wajah-wajah baru dari 88 temanku di dalam pesawat seakan bias membuang kesedihanku hingga beberapa ratus ribu detik kemudian.
Beberapa ratus ribu detik yang lalu semuanya masih terasa baik-baik saja, aku masih bias tertawa bersama 88 temanku saat kita di dalam bus menikmati pemandangan Washington DC, saat kita merasakan masakan Indonesia di KBRI, dan saat kita merasakan kantuk di dalam auditorium di tengah-tengah sesi.
“Wah! Ini sih masih di Tol Jagorawi!”celetuk seorang temanku saat di perjalanan dari Dulles International airport menuju Wasington DC. Memang, saat itu pemandangan masih belum terasa berbeda dengan Tol Jagorawi, pohon di mana-mana. Beberapa menit kemudian saat kita keluar dari “Tol Jagorawi” itu, banyak mata terbelalak dan komentar riuh memadati bus.
“Ya ampun! Itu rumah mirip banget sama rumah-rumahan Barbie adik ku!”seru salah seorang temanku dari arah belakang.
“Eh, lihat tuh! Itu mobil kan mirip yang ada di film Hollywood!”
“Itu kayak yang berhenti di dekat red carpet!”
Beberapa ribu detik yang lalu aku masih tertawa mendengar celotehan teman-temanku. Tapi dalam hati aku terus berdoa agar kelak aku bias menikmati hidup di sini, agar kelak beberapa ratus ribu detik ke depan ini bias jadi cerita dan kebanggaan, agar aku tidak melewatkan beberapa ratus juta detik ke depan dengan sia-sia.
Saat itu aku ingin segera merasakan petualangan. Di negeri yang selalu diimpikan banyak orang karena kekuatannya. Amerika. Aku tak pernah menyangka aku akan menginjakkan kaki di sini. Kalau bukan karena keberuntungan yang membawaku. Beberapa ratus ribu detik yang lalu aku belum terlalu memikirkan gejolak hidup yang pasti akan aku alami di sini, tentang culture shock dan homesick. Karena semua masih terasa baik-baik saja.
Hingga saatnya aku harus berpisah dengan 88 temanku, karena kita akan memulai petualangan di state kita masing-masing. Aku hanya dapat berdoa agar beberapa ratus juta detik ke depan mereka bisa melewati petualangan itu dengan indah.
Kembali aku berada di dalam pesawat. Kali ini aku terbang menuju Colorado. Tempat di mana aku akan berpetualang, menemukan keluarga baru, dan teman-teman yang baru. Di dalam pesawat masih ada satu orang temanku dari Indonesia, kita akan tinggal di Colorado tetapi jarak kota kita sekitar dua jam. Masih ada beberapa exchange student dari Negara lain di dalam pesawat yang sama dan mereka akan terbang ke Colorado. Semua masih terasa baik-baik saja saat itu. Hingga akhirnya kita harus berpisah di gate karena temanku harus pergi ke gate selanjutnya untuk flight keduanya.
“Jaga diri baik-baik ya! 11 bulan pasti jadi petualangan yang indah!”kata temanku sebelum kita berpisah.
“Ini bakal jadi petualangan untuk masa depan,”balasku.
Petualangan yang kunanti akhirnya dimulai saat aku berdiri di sebuah rumah di mana aku akan berpetualang dengan keluarga baruku. Saat itu semua masih terasa baik-baik saja, hari-hariku penuh warna menyambut perubahan di sekitarku. Tapi beberapa ratus ribu detik kemudian aku mulai merasakan banyak perubahan yang memaksaku untuk memeras tenaga dan pikiran agar aku bisa tetap berpetualang di sini.
Aku benci dengan kekosongan waktu yang hanya akan mempertontonkan kembali memori-memori indah yang tak akan aku temua 11 bulan ke depan. Karena aku hanya akan menangis dan menangis. Aku sadar, menangis bukan jalan untuk memudahkanku bertahan di sini. Hanya keyakinan bahwa Tuhan bersamaku adalah hal yang terbaik bagiku.
Entah apa yang akan terjadi beberapa ratus juta detik ke depan. Aku tak pernah tahu. Ku harap aku bisa melewatinya hingga kembali ke pelukan ibu pertiwi dan oran-orang tersayang dengan penuh kebanggaan. Cerita untuk masa depan.